BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

TRADISI NGEREBEG DI TEGALALANG

Gianyar, (NS7) – Tegalalang merupakan salah satu wilayah Kecamatan yang ada di Kabupaten Gianyar yang terkenal karena keindahan alam sawah teraseringnya, sehingga tidak mengherankan Tegalalang menjadi tujuan wisata wajib saat tour di Bali, selain sawah terasering ada juga atraksi swing dan agro wisata kopi Luwak. Termasuk juga wilayah ini memiliki sebuah tradisi unik yang dikenal dengan Ngerebeg, tradisi yang digelar di desa pakraman Tegalalang, sangat unik, bagi warga sekitar tradisi ini tidak asing lagi, karena digelar setiap 6 bulan sekali bertepatan dengan Buda Kliwon Pahang atau hari Pegat Uwakan.

Tradisi Ngerebeg ini secara rutin digelar oleh 7 banjar adat di desa Pekaraman Tegalalang, Kecamatan Tegalalang, Gianyar Bali, karena warga percaya jika ritual ataupun tradisi tidak digelar akan terjadi hal buruk yang akan menimpa warga desa mereka. Jadi jika anda wisatawan ataupun tour guide, jika kebetulan liburan di Bali saat ritual tersebut digelar, bisa menyaksikannya lebih dekat, sehingga selain anda bisa menikmati keindahan objek wisata yang cantik di Tegalalang juga bisa menyaksikan budaya dan tradisi warga lokal.

Jadi Ngerebeg adalah sebuah tradisi unik warisan leluhur di Tegalalang yang masih bertahan sampai saat ini, tradisi inipun hanya melibatkan anak laki-laki saja hingga seka truna termasuk mereka yang sudah dewasa sebagai peserta, dengan riasan menakutkan dan berwajah seram, menggunakan beraneka warna yang menghiasi tubuh dan wajah mereka, termasuk juga pernak-pernik agar mereka tampil seram, mereka berjalan berkeliling desa sepanjang 6 km, ini tentunya menjadi atraksi yang mengagumkan bagi wisatawan yang kebetulan lewat atupun sedang berkunjung di sejumlah objek wisata di kawasan Tegalalang.

Wajah-wajah seram peserta tradisi Ngerebeg tersebut adalah simbol atau wujud dari wong samar (makhluk halus) yang biasanya suka mengganggu anak-anak, tradisi yang juga merupakan ritual yang dilakukan oleh warga desa Pekraman Tegalalang tersebut sejatinya bertujuan untuk memberikan tempat bagi wong samar dan memberikan persembahan agar bisa hidup berdampingan dengan manusia, tidak saling mengganggu dan agar bisa menjaga desa Tegalalang. Itulah tujuan tradisi ini digelar, terlihat unik dan menarik dan sakral.

Ada sejumlah kejadian unik yang pernah terjadi dalam tradisi Ngerebeg tersebut, pernah seorang warga mengganggu anak yang ikut tradisi Ngerebeg, penjor yang dibawa anak tersebut diambil, tidak berselang lama orang tersebut kena musibah kecelakaan. Ada juga kejadian seorang anak laki-laki yang berkeinginan untuk menjadi peserta dari Tradisi Ngerebeg ini, Karena masih berusia balita orang tua dari anak tersebut tidak mengijinkan untuk ikut berperan, dan pada akhirnya anak tersebut tidak ikut berpartisipasi karena tidak diijinkan. Namun, setelah beberapa hari Tradisi Ngerebeg ini selesai, dikabarkan salah orang tua anak tersebut jatuh ke dalam jerami yang masih berapi yang mana mengakibatkan luka bakar.

Dengan demikian, penduduk Desa percaya bahwa tidak boleh menghalangi anak mereka jika ingin menjadi pengayah. Termasuk juga dan dalam prosesi tersebut yaitu saat tradisi Ngerebeg berlangsung, para wong samar juga ikut bersama mereka, sehingga pantang bagi warga untuk mengganggu tradisi yang sedang berlangsung. Jadi prosesi ini begitu sakral, walaupun tampilan mereka dibuat seram dengan riasan seadanya, namun makna filosofinya sangat tinggi, bagaimana manusia bisa menjaga keharmonisan dengan makhluk sekitarnya termasuk juga dengan wong samar (makhluk halus).

Tradisi Ngerebeg ini adalah dalam rangkaian pujawali yang digelar pada Pura Duur Bingin, pujawali atau piodalan di Pura Duur Bingin bertepatan dengan Wraspati Umanis Pahang, dan Tradisi Ngerebeg digelar bertepatan sehari sebelum pujawali tersebut yaitu saat hari Megat Uwakan. Hal pertama yang harus dilakukan dalam upacara pujawali ini adalah mecaru. Ritual persembahan berupa mecaru ini bertujuan untuk membersihkan pekarangan atau lingkungan pura, sehingga rentetan pada upacara dapat berjalan dengan lancar.

Yang kedua adalah acara puncak yaitu Tradisi Ngerebeg yang biasanya dimulai sekitar pukul 11.00 wita, sebelum Tradisi Ngerebeg berlangsung, Anak-anak atau peserta yang ikut Tradisi Ngerebeg melumuri muka dan tubuhnya dengan cat air dengan riasan yang menakutkan yang mirip dengan wong samar, walaupun mereka melumuri tubuhnya dengan cat air tidak seorangpun merasa gatal ataupun alergi terutama kulit yang sensitif, Selain riasan wajah dan hiasan yang seram, peserta Tradisi Ngerebg ini juga harus membawa penjor yang terbuat dari pohon enau. Penjor ini dilambangkan sebagai senjata agar wong samar tidak mengganggu kehidupan masyarakat Desa Tegalalang.

Peserta Tradisi Ngerebeg, kumpul di utamaning mandala pura Duur Bingin, mereka melakukan persembahyangan terlebih dahulu, dibagikan pica alit yang berisi nasi dibungkus dengan daun pisang, setelah selesai memakan pica alit mereka mendapatkan pica ageng yang beralaskan klakat (bambu dianyam) dengan diselimuti daun pisang dan mereka pun menghabiskannya dengan cara megibung (makan bersama).

Selanjutnya, setelah selesai nunas pica (makan), peserta Ngerebeg melukat di pura, barulah mereka melangsungkan Tradisi Ngerebeg ini. Peserta mulai berjalan kaki sekitar pukul 12,00 , rute dimulai dari jaba pura lalu berjalan hingga ujung desa pekraman Tegalalang setelah sampai disana, peserta melakukan perjalanan ke arah barat untuk menuju tempat tujuan, yaitu Pura Dalam Kauh, perjalanan sepanjang 6 km. Menurut cerita para pengayah (peserta) tradisi Ngerebeg, mereka merasakan kegembiraan saat melakukan tradisi tersebut tanpa teringat adanya masalah dalam diri mereka.

Setelah proses atau tradisi Ngerebeg selesai, para pengayah (peserta) mesti ke pura untuk melakukan penglukatan lagi. Namun prose melukat yang kedua ini dilakukan di beji pura taman desa, guna menghilangkan cat yang melumuri tubuh mereka. Pada saat ngerebeg riasan pada wajah dan tubuh peserta disimbolkan sebagai wong samar maka dari itu peserta harus melukat kembali dan datang ke pura Beji untuk mengembalikan identitas diri mereka sebagai manusia kembali. Setelah Tradisi Ngerebeg ini selesai, maka dilanjutkan dengan upacara puncak dari pujawali di Pura Duur Bingin pada esok harinya. Rentetan atau rancangan terakhir dari pujawali tersebut adalah melasti.

Sumber : balitoursclub.net
(GC)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF