BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

TRADISI MEGOAK-GOAKAN BULELENG

Buleleng, (NS7) – Banyak warisan budaya dan tradisi unik masa lampau yang masih bertahan sampai sekarang ini, salah satunya adalah tradisi Megoak-goakan yang digelar di Buleleng. Kawasan Bali Utara atau Kabupaten Buleleng mungkin tidak asing lagi bagi banyak orang, bahkan wisatawan sekalipun, karena di kawasan ini banyak terdapat objek wisata menarik yang menjadi tujuan tour di Bali, beberapa diantaranya adalah pantai Lovina yang populer dengan atraksi dolphin, berbagai wisata alam air terjun menawan dan spektakuler seperti air terjun Gitgit, Sekumpul dan Banyumala. Serta warisan budaya dan tradisi seperti Megoak-goakan melengkapi wilayah Bali Utara menjadi tujuan wisata Bali yang ideal.

Megoak-goakan adalah tradisi unik yang digelar di Kabupaten Buleleng, tradisi ini berasal dari desa Panji, Kecamatan Sukasada. Berupa permainan tradisional yang biasanya dilakukan oleh anak-anak, Megoak-goakan sendiri di inspirasi oleh seekor burung goak (gagak) yang sedang mengincar mangsanya. Tradisi ini terlihat unik pada masa sekarang ini, disaat permainan tradisional banyak ditinggalkan oleh kaumnya sendiri yaitu anak-anak, tetapi permainan seperti Megoak-goakan tersebut bertahan sebagai sebuah tradisi dan dimainkan oleh orang-orang dewasa terutama muda-mudi warga desa Panji.

Sejarah Atau Asal-Usul Tradisi Megoak-Goakan

Tradsis Megoak-goakan di desa Panji Buleleng ini digelar setiap tahun untuk menghormati jasa dari raja Ki Barak Panji Sakti. Pada saat masa pemerintahan kerajaan Buleleng, beliau adalah seseorang raja yang terkenal baik hati dan memiliki jiwa kepemimpinan tinggi sebagai penguasa di kerajaan Buleleng, nama raja ini tentunya tidak asing lagi bagi masyarakat Bali, apalagi bagi warga Buleleng. Beliaulah pendiri kerajaan Buleleng pada tahun 19660-an, terkenal sakti. Dan Ki Barak Panji Sakti menjadi orang yang pertama kali menemukan ide sehingga lahirlah tradisi Megoak-goakan tersebut.

Awalnya sang raja sedang melihat burung goak (gagak) yang sedang melintas di hadapannya, lalu burung gagak tersebut mencuri perhatian raja Ki Barak Panji, dilihatlah burung gagak yang sedang mengincar mangsanya dengan mengeluarkan taktik menarik untuk membuat menangkap mangsanya. Lalu raja Panji ini ingin menuangkan taktik tersebut kedalam permainan yang seru. sehingga beliau menemukan sebuah permainan dengan nama goak-goakan, yang sekarang sering digelar oleh masyarakat Desa Panji sehari setelah hari Raya Nyepi, dan permainan inipun dimasukkan ke dalam daftar tradisi di Kabupaten Buleleng.

Pertama kali sang raja mempraktekkan tradisi Megoak-Goakan ini kepada prajuritnya yang mana sebelum memulai tradisi ini sang raja melakukan sebuah perjanjian, jika sang raja memenangkan permainan ini, maka segala keinginan raja Ki Barak Panji harus dipenuhi oleh prajuritnya. Mereka pun menyetujui perjanjian yang dibuat oleh sang raja, dengan kegesitan dan kelincahan sang raja yang saat itu menjadi kepala goak akhirnya mampu memegang prajurit lawan yang berada di barisan paling belakang.

Akhirnya permainan Goak-goakan ini dimenangkan oleh Raja Ki Barak Panji Sakti. Beliau pun mengajukan sebuah perintah kepada prajuritnya yang mana prajuritnya harus memenuhinya. saat itu Sang raja meminta agar daerah Blambangan yang merupakan wilayah dibawah naungan Kerajaan Jagaraga, bisa dimiliki dan menjadi bagian dari keraajaan Buleleng saat itu. Dimulailah peperangan antara Kerajaan Jagaraga dengan Kerajaan Buleleng untuk merebutkan wilayah Blambangan dan akhirnya Blambangan jatuh ke tangan Kerajaan Buleleng.

Sebenarnya, jika dilihat dari asal mulanya Tradisi Megoak-Goakan yang dimainkan oleh Sang raja dengan pasukannya memiliki tujuan memberikan dan membangun semangat kepada pasukannya untuk melawan musuh dari kerajaan mereka yang saat itu sedang bermusuhan dengan Kerajaan Blambangan. Sehingga untuk menghormati dan mengenang sejarah kepahlawanan dari jasa Ki Barak Panji Sakti penduduk Desa Panji terus menjaga dan melestarikannya dengan secara rutin menggelar Tradisi Megoak-Goakan.

Tata Cara Tradisi Megoak-Goakan Di Desa Panji Buleleng

Tata cara dalam permainan atau tradisi Megoak-Goakan ini, dimainkan secara berkelompok yang mana setiap kelompok terbagi menjadi 2 regu yang setiap regu beranggotakan minimal 5 orang dan maksimal 11 orang. Setelah dibentuknya regu para peserta yang sudah memahami cara bermain Megoak-goakan ini pun bersiap-siap, dalam berlangsungnya permainan Goak-Goakan ini, yang pemimpin regu atau goak harus mampu menangkap peserta paling akhir (di ujung ekor) dari pihak lawan, siapa yang mampu menangkap terlebih dahulu, akan dinyatakan sebagai pemenang. Pecalang ditugaskan untuk memimpin dan mengatur jalannya pertandingan agar dapat berjalan dengan lancar.

Hal yang terpenting yang harus dilakukan sebelum memulai tradisi ini yaitu para peserta harus berdoa untuk memohon keselamatan agar acara berlangsung lancar dan tidak ada halangan sama sekali. Dalam menggelar Tradisi ini tempat yang diperlukan cukup simple, seperti di tanah lapang yang sudah dibasahi dengan air serta lumpur sehingga becek dan licin. Hal ini dapat membuat para peserta semakin greget memainkannya, karena berada di areal yang licin yang membuat para peserta susah untuk mendapatkan mangsanya. Suasana meriah dan kegembiraan saat tradisi ini berlangsung, apalagi ada peserta yang lepas dari timnya dan jatuh ke lumpur.

Dalam Tradisi Megoak-Goakan ini para peserta dari masing-masing regu akan berjejer memanjang ke belakang sambil memegang pinggang peserta didepannya dan yang berada didepannya disebut goak (orang yang dipilih karena memiliki fisik yang kuat). Untuk mencari pemenang cukup lah gampang, kita hanya menunggu siapa yang tercepat dapat memegang ekor (orang yang menjadi barisan paling belakang) dialah disebut pemenangnya. Jika dalam permainan peserta ada yang terlepas dari pegangannya, maka permainan harus diulang. Untuk lebih mengetahui keseruannya anda bisa datang ke Desa Panji, Buleleng.

Tradisi Megoak-Goakan ini selain untuk menghormati jasa raja Ki Barak Panji Sakti,juga bertujuan sebagai wujud Purusa Pradana yang artinya perlawanan laki-laki terhadap perempuan. Semua kalangan bisa ikut berpartisipasi dalam memeriahkan Tradisi Megoak-goakan ini dari yang muda hingga tua, selain itu wisatawan diijinkan untuk berperan dalam tradisi ini. Banyak para pemain yang mengungkapkan, pada saat melakukan permainan megoak-goakan mereka selalu diselimuti rasa kegembiraan, itu mengapa peserta Megoak-Goakan selalu bertambah banyak walaupun tidak ada aturan bagi yang tidak berperan di dalamnya.

Peserta Megoak-goakan para kaum desa biasanya dari seka Truna-Truni (muda-mudi) warga desa Panji. Sebelum dimulai mereka bersembahyang terlebih dahulu di Pura Pajenengan yang dibangun oleh raja Ki Barak Panji Sakti. Setelah usai peserta mengelilingi desa diringi gamelan Baleganjur, menuju tempat tradisi Megoak-goakan tersebut berlangsung yaitu di Lapangan Ki Barak Panji bertepatan sehari setelah Hari Raya Nyepi atau saat Ngembak Geni, jadi digelar setiap setahun sekali, sekitar pukul 15.00 wita. Jadi jika anda ingin menyaksikannya dan mengabadikan tradisi tersebutlah bersiap-siaplah sudah ada di lokasi sebelum acara dimulai.

Paket tour di Bali, sewa mobil, sewa bus pariwisata sampai sewa tour guide tersedia lengkap dalam website ini dengan tawaran harga lebih murah, selain itu berbagai wisata petualangan tersedia seperti watersport di Tanjung Benoa, Rafting, Odyssey Submarine, Bali, Quicksilver Cruise, bali Hai Cruise dan wisata mendaki. Untuk kapal cepat atau fast boat juga disediakan mulai dari speed boat ke Nusa Lembongan, Nusa Penida sampai ke Gili Trawangan.

Sumber : balitoursclub.net
(GC)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF