BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

Raja Sri Jayapangus

Denpasar, (NS7) – Raja Jayapangus yang bergelar Pāduka Śri Māhāraja Haji Jayapangus Arkaja Cihna/Lañcana adalah seorang raja penguasa Bali Kuno yang menjadi simbol keharmonisan etnik dan asimilasi kebudayaan seperti halnya Bali dan Cina pada saat itu sehingga aman dan tentramlah Bali jadinya.

Dalam pengaruh kebudayaan cina pada Bali Kuno, cerita-cerita yang menarik dari rakyat Cina-pun menyebar di Bali,

misalnya kisah Sampik – Ing Tay. Ilmu silat dari Cina juga berkembang di Bali Kuna dalam bentuk pencak, dan dalam bentuk tarian masal misalnya : baris dapdap, baris demung, baris presi, baris tumbak, baris tamiang, dan lain-lain.

Semenjak menjadi penguasa Bali pada saat itu, Beliau berkeraton di Istana Balingkang Kintamani pada tahun 1133 – 1173 yang dalam kisah Barong Landung diceritakan :

Raja Jaya Pangus disebutkan punya dua permaisuri, Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna — (Cihna-Cina).

Cerita rakyat yang berkembang menyebutkan bahwa istrinya tersebut bernama Kang Ci Wi, putri Tuan Subandar pedagang dari Cina.

Setelah beliau memerintah, kembali sejahteralah seluruh kerajaan Bali Dwipa ini.

Lebih-lebih setelah didampingi oleh kedua permaisuri beliau yang selalu duduk di kiri-kanan singasana beliau, serta para pejabat kerajaan dan para abdi atau rakyat beliau semuanya.

Berdasarkan mitos masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang disebutkan Pemerintahan Maharaja Jayapangus di Bali Abad ke-XII disebutkan :

Menyadari akan tugas seorang raja sangat berat, untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Maka Raja Jayapangus menggunakan beberapa kitab hukum Hindu sebagai pedoman pelaksanaan pemerintahan, yang dipatuhi oleh segenap pelaksana atau pejabat pemerintahan.

Kitab hukum yang sering disebut-sebut dalam prasasti antara lain :

  • kitab hukum Manawakamandaka,
  • Manawakamandaka Dharmasastra,
  • dan Manawaśasanadharma.

Di samping itu diterapkan pula ajaran-ajaran tentang :

  • Dasaśila, sepuluh jenis tingkah laku yang baik dan harus dilaksanakan oleh pejabat Negara.
  • Pancaśiksa, keterampilan untuk melengkapi diri dalam melaksanakan tugasnya.

Sumber : sejarahbabadbali.blogspot.com
(GC)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF