BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

PERANG KETUPAT DI KAPAL BALI

Badung, (NS7) – Bali memiliki sejumlah budaya dan tradisi unik dan bertahan lestari sampai sekarang ini, walaupun sekarang perkembangan jaman sudah melaju pesat, berbagai modernisasi dalam hampir semua lini kehidupan manusia, namun tidak lantas melupakan masyarakat pulau Bali meninggalkan berbagai tradisi warisan nenek moyang yang berasal dari masa-masa Bali kuno.

Salah satu tradisi unik tersebut adalah Perang Ketupat di desa adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung – Bali. Prosesi unik Perang Ketupat ini digelar setiap satu tahun sekali bertepatan dengan Purnama Kapat.

Selain Perang Ketupat di Kapal Bali, banyak lagi budaya dan tradisi unik lainnya, seperti prosesi perang Pandan atau Mekare-kare di Tenganan, Gebug Ende Seraya, Ter-teran Jasri, Mekotek di Munggu, Omed-omedan di Sesetan. Sejumlah tradisi unik tersebut menjadi sesuatu yang menarik bagi wisatawan yang sedang liburan di pulau Dewata Bali.

Semuanya bertahan dengan baik, ini dikarenakan karena tradisi tersebut sangat berhubungan dengan kegiatan atau ritual keagamaan, karena selain secara tradisi juga menyangkut kepercayaan warga atau umat yang selalu patuh dengan apa yang telah diamanatkan oleh para leluhur mereka, yang memiliki tujuan mulia.

Makna Dan Tujuan Perang Ketupat Di Desa Adat Kapal Bali

Apapun bentuk tradisi atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat Bali tentunya memiliki makna dan tujuan tertentu, misalnya dengan tujuan untuk kebaikan sesama, alam atau untuk penghormatan kepada leluhur atau Sang pencipta.

Upacara Perang Ketupat dikenal juga dengan Aci Rah Pengangon, yang memiliki makna ucapan terima kasih manusia kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas segala hasil panen yang berlimpah dan juga terhindar dari wabah dan kekeringan.

Selain itu digelarnya ritual ataupun tradisi Perang Ketupat di bertujuan juga untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi alam dan umat manusia, sehingga tradisi Perang Ketupat ini dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran manusia.

Tradisi dalam Aci Rah Pengangon ini merupakan salah satu cara bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widi atas segala berkah yang telah diberikan dan wujud dari rasa syukur tersebut melalui upacara Perang Ketupat.

Budaya dan tradisi warisan leluhur ini, bisa anda saksikan setahun sekali pada hari Purnama Kapat (antara September – Oktober), sehingga jika anda ingin menikmati keunikan prosesi Perang Ketupat tersebut bisa berkunjung ke desa adat Kapal – Badung ini.

Jarak desa adat Kapal dari pusat kota Denpasar hanya sekitar 25 menit berkendara, sedangkan dari bandara Ngurah Rai sekitar 45 menit dengan kendaraan, berdekatan juga dengan pusat-pusat pariwisata Bali seperti Kuta, Canggu dan Ubud.

Sebelum melakukan prosesi Perang Ketupat, warga terlebih dahulu melakukan persembahyangan di Pura Setempat dipimpin oleh seorang Pemangku, berdoa bersama agar prosesi tersebut berjalan lancar dan selalu diberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi warga setempat.

Setelah persembahyangan usai, warga membagi diri dalam dua kelompok terpisah dan saling berhadapan, mereka membawa amunisi berupa ketupat dan kue bantal yang siap digunakan untuk menyerang lawan. Ketupat-ketupat dan kue bantal tersebut berasal dari warga yang sudah dikumpulkan sebelumnya dan diupacarai terlebih dahulu.

Budaya dan tradisi Perang Ketupat ini memang cukup unik dan menjadi atraksi wisata yang cukup menarik bagi wisatawan yang sedang liburan di pulau Dewata Bali.

Perang ketupat ini hanya melibatkan para laki-laki, mereka berbusana pakaian adat tradisional Bali dengan bertelanjang dada, begitu ada aba-aba untuk memulai perang, saling lempar dan serang dengan ketupat terjadi dalam areal pura.

Kemudian Perang Ketupat merembet ke luar pura sampai ke jalan raya, mengambil areal yang lebih leluasa, merekapun membagi diri atau membentuk 2 kelompok,saling serang dengan ketupat yang ada digenggaman, seperti perang sungguhan.

Pada saat prosesi berlangsung, semua di depan mata adalah musuh yang wajib diserang dengan amunisi ketupat, tidak ada aturan tertentu, semua bebas menyerang kubu lawan, bahkan bisa mengenai penonton.

Ratusan bahkan ribuan ketupat melayang di udara untuk menemukan sasarannya, walaupun dalam suasana perang mereka terlihat begitu gembira dan suka cita, pada akhir perang tidak ada merasakan dendam karena terkena amunisi lawan. Setelah prosesi selesai mereka akhirnya saling berpelukan, menandakan tidak ada lagi permusuhan.

Jika berkaitan dengan tradisi perang di pulau Dewata Bali anda bisa menemukan sejumlah tradisi tersebut di kawasan Bali Timur atau Kabupaten Karangasem, diantaranya perang Pandan di Tenganan, Perang Api di Jasri dan Gebug Ende di Seraya.

Upacara ini terbuka untuk umum, sehingga semua bebas menyaksikan tradisi ini, termasuk juga wisatawan. Setelah prosesi atau tradisi Perang Ketupat ini selesai, warga bersama-sama membersihkan tempat tersebut kembali.

Tempat acara berlangsungnya Aci Rah Pengangon ini adalah di jalan raya utama desa adat Kapal, sehingga selama prosesi berlangsung, jalan harus ditutup sementara. Perang Ketupat di desa adat Kapal Badung ini berlangsung singkat hanya 30 menit saja, sehingga tidak terlalu mengganggu para pengguna jalan.

Sumber : balitoursclub.net
(GC)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF