BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

Pemakaman Di Desa Trunyan Bangli

(NS7) – Seperti diketahui desa adat Trunyan di Bangli ini adalah salah satu desa Bali Aga, yang merupakan penduduk asli Bali tidak terpengaruh dari budaya luar saat kekuasaan Majapahit berkuasa di Bali, masih memegang teguh berbagai budaya warisan leluhurnya. Untuk itulah Desa adat Trunyan memiliki sejumlah tradisi unik termasuk pemakaman atau penguburan mayat. Masyarakat Bali sendiri dalam kesehariannya beragama Hindu, setiap orang yang meninggal akan dilaksanakan upacara ngaben baik dengan cara menguburkan jasad ataupun dikremasi langsung.

Tapi di Desa Trunyan Bangli walaupun penduduk di sini beragama Hindu, hampir setiap jasad orang yang meninggal akan diletakkan di atas tanah dibawah pohon Menyan, dibuatkan lubang sekitar 10-20 cm, menghindari agar jasad tidak bergeser, karena kontur tanah yang tidak rata, jasad tersebut ditutupi dengan kain, dikelilingi anyaman bambu berbentuk prisma yang dinamakan ancak saji. Dan anehnya jasad tersebut tidak mengeluarkan bau busuk. Tata cara pemakaman seperti ini di desa adat Trunyan disebut dengan Mepasah.

Jenazah yang diletakkan di bawah pohon Taru Menyan dikarenakan, pohon tersebut bisa menetralisir bau yang timbul dari jenazah. Dan uniknya lagi pohon Taru Menyan tersebut hanya bisa tumbuh dengan baik di Desa adat Bali Aga Trunyan. Berdasarkan kepercayaan warga, pada setiap satu pohon dibawahnya dimakamkan hanya terbatas sebelas jenazah saja, ada yang menduga kalau lebih dari 11 jenazah ada kemungkinan mengeluarkan bau. Dan bila ada jasad baru, maka tulang belulang jasad lama dipindahkan ke tempat yang sudah disediakan, kemudian ditempati oleh jasad baru.

Pada sisi lain anda bisa tumpukan tulang belulang yang sudah disusun rapih, seperti tumpukan tulang tengkorak manusia. Barang-barang bekal orang meninggal seperti pakaian mereka, sandal atau barang kesukaan sewaktu mereka hidup terlihat berserakan, memang sengaja dibiarkan karena tidak diperbolehkan membawa ke luar areal pemakaman. Walaupun nuansa alam di pemakaman ini terkesan mistis dan angker, namun pemandangan alam di sini cukup indah sehingga menjadi tempat rekreasi alam yang menyenangkan.

Tata Cara Pemakaman Di Desa Trunyan Bangli

Perlu diketahui terdapat tiga tata cara pemakaman di desa adat Trunyan, tidak semua orang meninggal di desa Trunyan dimakamkan dengan cara Mepasah (jasadnya diletakkan di bawah Taru Menyan) karena tempat tersebut hanya diperuntukkan untuk orang meninggal dengan kondisi; meninggal dalam keadaan wajar, sudah berumah tangga, bujangan dan anak kecil yang sudah tanggal gigi susunya. Dan orang meninggal tersebut tidak terdapat luka yang belum sembuh dan semua anggota tubuhnya lengkap. Area pemakaman dinamakan Sema Wayah dan dianggap tempat pemakaman paling suci, sehingga dikenal sebagai Kuburan Suci.

Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka jasad tersebut akan dikubur. Ada dua tata cara penguburan tersebut, anak-anak yang belum tanggal gigi susunya, akan dikubur di area pemakaman Sema Muda. Sedangkan tempat pemakaman berikutnya adalah Sema Bantas, area pemakaman di Desa adat Trunyan ini untuk mengubur jasad yang meninggalnya karena hal yang tidak wajar seperti karena bunuh diri, kecelakaan, dibunuh orang lain, saat meninggal masih ada luka dibagian tubuhnya dan ada bagian tubuh yang tidak lengkap.

Ada juga mitos yang berkembang di masyarakat desa Penelokan, saat pemakaman di area Sema Wayah dengan cara Mepasah. Jasad orang yang selalu berbuat baik maka jasadnya lebih cepat membusuk dibandingkan dengan jasad orang yang sering berbuat dosa. Perlu juga diketahui bagi para pengunjung, dilarang dan pantang bagi pengunjung mengambil sesuatu di pemakaman desa adat Trunyan ini, apapun bentuknya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi untuk memegang ataupun foto selfie dengan tengkorak di sini tidak dilarang, ada perlunya minta ijin terlebih dahulu dengan bilang permisi.

Sumber : www.balitoursclub.net/desa-trunyan/

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF