BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

Lontar Tanpa Tulis Memahami Rwa Bhineda (Bagian-2)

Rwa Bhineda, Nusantara 7

(NS7) – Kanda Pat Bhuta – mencirikan saat seseorang sudah menguasai ego dirinya, sehingga dapat difungsikan dengan maksimal kekuatan bhuta-kala dalam diri, sehingga bhuta kala luar diri dapat dikuasai dan digunakan dalam kegiatan yang bersifat agresif, nuansa panas biasanya lebih condong kepada kawisesan.kanda pat manusa – mencirikan seseorang yang dapat menguasai ego-nya kemudian juga dapat menguasai keadaan dengan sesamanya, dengan dikuasai hal tersebut, digunakan untuk bersosialisasi, baik untuk meyadnya, ngusadanain (pengobatan) atau hal-hal lain yang berhubungan dengan kegiatan sosial dengan sesama.kanda pat dewa – mencirikan kebijaksanaan, telah melewati 2 tahap sebelumnya (bhuta dan manusa) sehingga terkesan lebih spiritual, lebih tertutup, penyabar, penyayang dan selalu berorientasi dengan yadnya dan yoga. dalam kanda pat ini sangat jarang ada permohonan yang bersifat material tetapi lebih condong kepada pemujaan, sehingga kanda pat dewa ini biasanya lebih sering digunakan untuk ngastawa, oleh pemangku serta orang-orang tua yang sedikit memiliki tuntutan.

Untuk tambahan pengetahuan, dalam Kanda Pat sering dibicarakan mengenai tingkat spiritual dari masing-masing fungsi Kanda (saudara gaib kita), yang intinya kesemuanya memiliki makna filosofis yang teramat mendalam. berikut sekilas makna filosofisnya:

Anggapati, asal katanya Angga = badan dan pati = kehidupan. artinya badan wadak diri manusia

Prajapati, asal katanya Praja = penjaga dan pati = kehidupan, sehingga maksudnya sang penjaga kehidupan.

I Ratu Ngurah Tangkeb langit dengan pewayangannya bagai “segara tanpa tepi” yang dalam bahasa indonesia dapat diartikan samudra tanpa tepi/pantai. maksudnya adalah saat mempelajarinya tiada habisnya, pengetahuan itu luas bagai samudra dimana kita berada ditengah-tengahnya, tanpa tau ujung pangkalnya, tiada terlihat batas pengetahuannya.

I Ratu Wayang Teba/Tabengdengan pewayangan bagaikan “tampaking kuntul angelayang” yang artinya telapak kaki bangau saat terbang. bila dicermati, burung bangau saat mencari makan di sawah berlumpur maka kakinya akan tenggelam dalam lumpur tersebut, sangat kotor tetapi akan berbeda halnya saat bagau itu terbang, kakinya kembali bersih seperti tiada pernah menginjak lumpur. maksudnya, dalam mempelajari spiritual ini, kita harus bisa beradaptasi dalam menjalani kehidupan, tatapi saat kita menunjukan jati diri dalam membantu orang lain, bantulah dengan iklas tanpa memikirkan imbalan. dan saat spiritual ini mencapai tahap yang lebih tinggi, mulailah meninggalkan sifat duniawi.

I Ratu Made Jelawung dengan pewayangannya bagai “Galihing Kangkung”. Galih secara harafiah artinya tulang, sedangkan sayur kangkung tidak memiliki tulang, saat segar kangkung itu sangat kokoh tetapi pada saat tertentu kangkung terlihat lunglai tanpa tulang, bila dibedah dalamnya kangkung adalah ruang kosong. I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan kadi “Galihing Kangkung

“I Ratu Ketut Petung kadi “Lontar Tanpa Tulis”. lontar merupakan simbol pengetahuan/kitab suci, tanpa tulis artinya tiada tulisan. ini menyimbolkan dengan mempelajari kanda pat, pengetahuan akan banyak diperoleh, sehingga menjadi lebih bijaksana. dengan demikian akan menjadi panutan di masyarakat.

Untuk mendalami ajaran Kanda Pat, dapat dipilah menjadi 2 tahap, yaitu: tahap awal dan tahap lanjutan. dan catatan Penting,

RITUAL INI TIDAK BISA DIWAKILKAN

karena ini adalah urusan kita dengan jati diri kita. sehingga alasan melakukan ritual banten diwakilkan ibu, seaudara atau istri sangat tidak bisa diterima. berikut ini tahapan Belajar Tenaga Dalam Spiritual Bali melalui ajaran kanda pat:

Tahap Awal Belajar Kanda Pat

Pada tahap ini, kita baru mulai mengenali jati diri, karenanya mantra tidaklah penting, yang terpenting adalah ritual pendekatan diri. jalan bhakti marga sangat diutamakan, yang umumnya sudah dilaksanakan oleh orang bali secara umum tetapi belum difokuskan kedalam ajaran kanda pat ini. adapun ritual yang wajib dilaksanakan diantaranya:

KANDA PAT BUTHA

Beliau lahir saat kajeng klion, karenanya bila ingin dekat dengan sanak bhuta lakukan ritual “mebanten segehan kepelan manca warna” di sebelah tempat tidur. dimana orang bali jaman dahulu, tempat tidurnya berupa dipan, maka segehan kepelan manca warna ini dihaturkan: di sebelah dipan, tepatnya; posisi segehannya berada agak di hulu, apabila kita duduk di dipan dengan kaki menyentuh lantai, bukan di bawah dipan tetapi pada posisi kaki menginjak lantai saat duduk dan agak ke hulu agar segehannya tidak ter-injak, bila kita bangun tidur. di tempat ari-ari. Cara membuat segehan kepelan, untuk ritual kanda pat adalah dengan mengambil nasi segenggam dan dikepalkan dalam sekali kepalan, apapun hasilnya itulah yang dihaturkan. tidak boleh dikepal lebih dari sekali (baca:banten segehan) dan wajib melaksanakan upacara Bhuta Yadnya, minimal mebanten saiban dan caru eka sata minimal setahun sekali, (silahkan baca: Banten caru eka sata dan rsighana) serta melaksanakan bhuta yadnya lainnya.

KANDA PAT MANUSA

Beliau lahir bersamaan dengan diri kita, sehingga upacara “meotonan” sangatlah wajib dilaksanakan. upayakan dalam upcara maotonan tersebut dilengkapi dengan bayuh oton sesuai dengan hari lahir anda. (baca: upacara otonan dan banten bayuh oton), dan melakukan upacara manusa yadnya lainnya.

KANDA PAT DEWA

Sehubungan beliau sudah berbentuk dewa bhatara, maka sembahyang atau minimal trisandya tidak boleh dilupakan. Cuntaka bukanlah alasan untuk tidak sembahyang, cuntakan adalah cara kita menghormati orang lain yang sedang berkabung. dan sembahyang tidaklah harus ke pura atau tempat suci diluar rumah, anda boleh melakukan persembahyangan didalam kamar guna meghormati orang yang sedang kena cuntaka. (baca: mantra muspa dan sikap sembahyang), serta wajib menghaturkan piodalan di sanggah pamerajan minimal setahun sekali. (baca: Dewa Yadnya). setelah melakukan ritual tersebut satu oton (enam bulan), barulah dilanjutkan dengan belajar mantra yang berhubungan dengan ajaran Kanda Pat, yang terangkum dalam Ajaran Tahap Lanjutan. (Bersambung)

Penulis: Raymond Wijaya
Editor: Gung Pram
(GP/NS7)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF