BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

Gebug Ende Seraya – Perang Rotan Memohon Hujan

(NS7) – Tradisi Gebug Ende menjadi salah satu atraksi wisata menarik yang menjadi hiburan menarik bagi wisatawan. Liburan ke pulau Dewata Bali, mungkin anda sudah puas dengan perjalanan tour mengunjungi objek wisata dan tempat rekreasi yang ada, seperti menyaksikan keindahan pantai Kuta, menikmati segarnya udara pegunungan seperti Kintamani dan Bedugul atau bahkan berpetualang mendaki puncak tertinggi Gunung Agung.

Selain itu untuk mengenal lebih dekat pulau Dewata Bali, maka ada baiknya juga anda mengenal lebih dekat mengenai budaya setempat, dan Bali sendiri memiliki banyak budaya dan tradisi unik yang cukup menarik bagi wisatawan, seperti keberadaan Gebug Ende Seraya yang merupakan tradisi asli khas desa Seraya, Kabupaten Karangasem.

Budaya dan tradisi unik di wilayah Bali Timur atau wilayah Kabupaten Karangasem ini terkenal dengan tradisi perang, menampilkan atraksi heroik yang butuh keberanian dan adu nyali, seperti juga Gebug Ende Seraya yang merupakan perang rotan antara 2 petarung, kemudian ada perang pandan atau tradisi mekare-kare di Tenganan Pegeringsingan, perang pelepah pisang dan perang jempana di desa Bugbug, Mesabatan Biu atau perang dengan buah pisang di Tenganan Dauh Tukad dan Terteran atau perang api di desa Jasri.
Sehingga Kabupaten di Ujung Timur pulau Bali ini memiliki kekayaan budaya yang cukup menarik perhatian. Karena daya tarik wisata tidak hanya pada tempat rekreasi dan objek wisata alam saja, tetapi juga wisata budaya, seperti tradisi-tradisi unik yang ada di wilayah Bali Timur atau Karanagsem, sehingga menjadikannya sebagai daya tarik tersendiri. Jika anda liburan ke pulau Dewata, maka wilayah kabupaten Karangasem ini akan menjadi tujuan liburan wajib.

Gebug Ende Seraya – Perang Rotan Memohon Hujan

Gebug Ende Seraya  atau juga bisa disebut perang rotan, merupakan warisan budaya dan tradisi leluhur yang masih dilakoni oleh warga sampai saat ini, tradisi unik ini digelar berkaitan dengan musim kemarau atau bisa dibilang untuk memohon turun hujan pada sasih Kapat (kalender Hindu bali) atau pada bulan Oktober – Nopember. Letak geografis desa Seraya pada dataran tinggi cenderung tandus, mengandalkan peran alam terutama musim penghujan sangat diharapakan, dan akan menjadi kendala jika kemarau berkepanjangan. Maka untuk itu Gebug Ende selalu digelar pada musim kemarau.

Desa Seraya yang terletak sekitar 10 km dari pusat kota Amlapura, perjalanan dari Denpasar sekitar 2.5 jam dengan mobil, setelah melewati objek wisata Taman Ujung Karangasem. Menuju arah dataran tinggi perbukitan, hasil bumi yang cukup terkenal pada wilayah tersebut adalah jagung Seraya yang terkenal gurih dan empuk, mata pencaharian sebagai petani, itulah sebabnya kebutuhan air adalah prioritas utama di desa ini, untuk ituk Gebug Ende selalu digelar untuk memohon turunnya hujan. Kondisi fisik warga rata-rata kuat menjadi sisa warisan leluhur yang terkenal teguh dan kuat dalam berperang, sebagai garda depan prajurit kerajaan Karangasem.

Tradisi perang rotan atau Gebug Ende Seraya ini digelar di tempat-tempat umum, yang bertujuan juga untuk menarik perhatian dan bisa mengundang lawan desa lainnya, tidak hanya diikuti oleh orang dewasa, termasuk juga anak-anak yang ingin duel dan adu nyali satu lawan satu. Tujuan utamanya adalah memohon hujan, walaupun tidak serta merta hujan bisa turun ke bumi, karena tentunya tergantung kepada-Nya. Namun setidaknya mereka telah berusaha untuk memohon kepada Tuhan dan mempertahankan tradisi Gebug Ende tersebut agar tidak punah.

Dalam adu tanding dalam Gebug Ende Seraya, 2 peserta berhadapan siap saling serang dengan masing-masing membawa sebatang rotan sepanjang 1.5 – 2 meter untuk memukul lawan atau dinamakan “Gebug” dan sebuah perisai yang dinamakan “Ende” untuk menangkis serangan lawan.  Areal tempat pertandingan tidak ditentukan ukurannya yang penting tempat tersebut datar, dan diberi pagar pembatas penonton, permainan berlangsung sekitar 10 menit. Wasit (Saye) tidak menentukan menang – kalah, penonton bisa menilai sendiri. Sebelm tradisi Gebug Ende tersebut digelar para tetua melakukan persembahyangan agar prosesi terbut berjalan lancar dan mendapatkan berkah dan kemakmuran bagi masyarakat desa Seraya.

Peserta yang adu tanding berpakaian adat Bali madya dengan udeng (ikat kepala) berwana merah menandakan jiwa pemberani, bertelanjang dada dan memakai sarung, prosesi Gebug Ende ini diiringi dengan gamelan yang memacu adrenalin untuk terus bertarung dan berhenti setelah musuh terdesak. Dalam areal pertandingan dipasang sebuah batang rotan sebagai pembatas antara ke dua pemain dan tidak boleh memasuki areal lawan. Dalam pertandingan tersebut tidak pelak banyak tubuh yang terluka dan berceceran darah, minimal memar, warga yakin kalau salah satu pemain sampai luka dan mengeluarkan darah, maka diharapkan hujan turun lebih cepat.

Dalam permainan Gebug Ende di Seraya ini, tidak hanya memerlukan keberanian saja, tetapi juga keahlian walaupun ada batasan-batasan yang tidak memperbolehkan menyerang bagian pinggang ke bawah. Namun demikian tetap berbahaya pada kulit tubuh dan kepala. Setelah selesai perang tanding tersebut tidak ada dendam atau marah, yang ada hanya suka cita dan persembahan yang tulus kepada Tuhan.

Sejarah Gebug Ende

Pada jaman kerajaan Karangasem, warga desa Seraya banyak ditugaskan sebagai prajurit untuk menyerang kerajaan Seleparang yang berada di pulau Lombok. Pada saat jaman tersebut, warga Seraya terkenal tangguh dan kuat memiliki ilmu kebal, sehingga dijadikan garda depan untuk menyerang kerajaan Seleparang, sehingga kerajaan tersebut takluk menjadi wilayah kerajaan Karangasem.

Prajurit dari Desa Seraya yang terkenal tangguh tersebut, setelah menang belum puas menikmati perang tersebut, semangat ksatrianya masih berkobar, maka mereka bertarung dengan teman-teman sendiri, mereka saling menyerang dan menangkis dengan peralatan perang yang ada. Seiring dengan kejadian tersebut muncullah permainan Gebug Ende yang diwariskan sampai sekarang, tombak dan tameng yang digunakan para prajurit diganti dengan tongkat rotan dan perisai Ende.

Sumber : http://www.balitoursclub.net

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF