BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

Catur Brata Penyepian

Denpasar, (NS7) – Catur Brata Penyepian | empat (4) pantangan yang harus dijalankan saat melaksanakan Hari Raya Nyepi dalam rangka menyambut warsa anyar yang dilaksanakan setiap tahun sekali. Keempat Catur Brata Penyepian dalam makna etika Upacara Nyepi untuk pengendalian diri ini disebutkan sebagai berikut :

  1. Amati Geni, tidak melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan menghidupkan api.
  2. Amati Lelanguan, untuk mulat sariraatau mawas diri.
  3. Amati Karya, tidak melakukan aktifitas pekerjaan dan evaluasi diri dalam kaitan dengan karya (kerja menurut swadharmakita masing-masing) merenung hasil kerja dalam setahun.
  4. Amati Lelungan / Lelungaan, menghentikan bepergian ke luar rumah.

Dalam memaknai Catur Brata Penyepian sebagai tuntunan pelaksanaan Nyepi ini disebutkan :

  • Sehari dalam setahun,
    • adakalanya kita diam, tidak melakukan aktifitas, merenungi diri dan melakukan evaluasi atas segala pekerjaan yang telah kita lakukan.
  • Dan pada akhirnya,
    • kita akan kembali lagi dalam keramaian dan hiruk-pikuknya dunia sebagai manusia yang baru, manusia dengan kesadaran baru.

Jika kita dengan sungguh-sungguh menjalankannya, melalui Catur Brata Penyepian saat perayaan Nyepi ini, kita diingatkan/disadarkan dan diharapkan untuk mengaplikasikan esensi-esensi luhur ini menuju kehidupan yang lebih baik.

Brata

Brata adalah pengendalian dan pantangan indria yang bertujuan untuk dapat :

  • Melatih kesabaranmenuju kehidupan yang lebih baik; 
  • Dan menemukan hakekat sebagai manusiasejati yang terlepas dari belenggu kegelapan bathin. 

Seperti halnya dilaksanakan dalam hari raya dan upacara yadnya berikut :

  • Saat hari raya nyepiyang dilaksanakan dengan catur brata penyepian dalam amati indria.
  • Pada hari Siwaratri, umat patut melaksanakan brata siwaratriuntuk meningkatkan kesucian rohani dan latihan mengekang hawa nafsu agar memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di dunia ini seperti tiga brata yang dilakukan oleh Lubdaka  saat malam Siwa Ratri ini yaitu :
    • Jagra(begadang), 
    • Monobrata, dan 
    • Upawasa atau puasasebagai kesadaran diri untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi.
  • Upacara ngekebyang dilaksanakan dalam gedong rumah.

Dalam lontar wrtti sasana, disebutkan melaksanakan brata dengan mentaati setiap tantangan sehingga tercapailah :

  • Kesempurnaan dan kesucian bathin
  • Menuju kehidupan yang lebih baik.

Pada awalnya puasa (brata) ini dalam kejernihan skala niskala, disebutkan memang merupakan suatu penyiksaan diri, bagi yang menganggapnya begitu.

  • Tapi bila semuanya dilakukan dengan kesadaran,
  • maka tak akan ada rasa penyiksaan itu.

Sebagai manusia memang sepantasnya melakukan pengendalian indria agar tak menjadi liar dan bisa mencapai kesucian.

  • Hidup itu seperti kereta dan kudanya yang berjumlah lima.
  • Jadi tak satu pun kuda itu seharusnya berjalan menyimpang sehingga dapat berjalan dengan lurus.

Untuk mencapai kesucian lahir dan batin perlu ada upaya yang harus dilakukan secara terus menerus melalui tapa atau brata. Dua laku ini merupakan cara untuk mengendalikan pikiran dan indria itu.

  • Pikiran harus diusahakan agar berpikir baik,
  • Kata-kata yang diucapkan baik dan benar
  • dan tak kalah pentingnya tingkah laku juga harus diperhatikan.

Luasnya pengertian brata, tak hanya pada pengendalian atau pengekangan terhadap makanan saja.

  • Yogamerekomendasikan pemanfaatan tapa brata sebagai daya yang mengagumkan dengan tidak menyianyiakan indria.
  • Namun, brata itu dikembangkan dan dimanfaatkan sebesar mungkin lebih tinggi,
    • lebih halus untuk kesejahteraan sosial, 
    • penemuan-penemuan, 
    • kemajuan dunia sains
    • dan pada akhirnya bermuara pada berkembangnya intuisi.

Potensialitas brata seseorang yang tak terbatas, meski ditempa demi kebaikan yang lebih luhur. Dan, tidak diizinkan untuk terperangkap di dalam jerat kesenangan sesaat secara memalukan dan bersifat kebinatangan.

Umat Hindu umumnya mengenal brata (puasa) hanya pada hari-hari tertentu,

  • Padahal sejatinya tak begitu adanya.
  • Sebab, bila ‘penahanan’ diri dilakukan untuk tujuan kemuliaan atau linuwih, pasti berbeda masalahnya.

Biasanya, pabratan itu memang harus dilakukan saat tertentu. Untuk pabratan jenis ini (saat-saat tertentu) berbagai cara dilakukan orang untuk memenuhinya agar apa yang menjadi tujuan dalam brata tersebut tercapai yang sebagaimana dalam beberapa naskah lontar dan jenisnya disebutkan :

  • Dalam lontar Aji Pabrataan disebutkan,
    • soal bau badan yang sangat ditakuti, bratanya hanya makan nasi aruan ajumput selama tujuh kliwon.
    • melakukan puasa kosongan alias tak makan apa pun selama 24 jam, setiap purnamaSasih Kasanga.
  • Mona Brata| mengistirahatkan pikiran sejenak, agar tidak selalu dipenuhi oleh berbagai aktivitas.

Dengan menjalankan brata ini, dari sinilah disebutkan akan didapatkan ketenangan jiwa dan waktu yang cukup untuk memikirkan secara mendalam atas :

  • Apa yang telah kita perbuat; 
  • Agar nantinya menuju kehidupan yang lebih baik.

Nyepi

Suasana Catur Brata Penyepian

Hari Raya Nyepi adalah perayaan hari raya untuk menyambut warsa anyar, tahun baru saka sebagai penanda waktu dari zaman ke zaman dalam stabilitas peradaban kehidupan di alam ini.

Dan adakalanya sehari dalam setahun kita merenungi diri dan melakukan evaluasi untuk nantinya kita akan kembali lagi dalam keramaian dan hiruk pikuknya dunia sebagai manusia baru.

Itulah salah satu makna yang terkandung pada saat merayakan Hari Raya Nyepi di Bali.

Dengan menghentikan seluruh aktivitas sehari dan melakukan puasa pada hari ini yang pada hakekatnya disebutkan merupakan “renungan suci dalam hal pengendalian diri dan hawa nafsu” yang diatur dengan catur brata penyepian untuk dilaksanakan agar dapat menyambut tahun baru dengan lebih baik.

Dalam Babad Bali, Hari Raya Nyepi disebutkan merupakan hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa.

Suasana Nyepi di Bali sebagaimana diberitakan juga dalam Antara News dalam perayaan Nyepi Di Bali. sepanjang jalan Gatot Subroto Tengah arah perempatan A Yani, lengang selama 24 jam bertepatan datangnya tahun baru Saka 1932.

Penggunaan tahun saka dalam sejarahnya di India disebutkan pada tahun 79 Masehi, awal mula perkembangan tahun saka dalam kutipan Parisada Hindu Dharma Indonesia dijelaskan bahwa Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan.

Semenjak itu, bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra).

Akibat toleransi dan persatuan itu, sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu.

Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi.

Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan.

Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpu seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta Siwa Budha dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat.

Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI – XCII.

Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada setiap tahun sekali. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April.

Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga.

Upacara Tawur Kesanga ini sebagaimana dijelaskan dalam kutipan artikel Parisada Hindu Dharma Indonesia perihal Hari Raya Nyepi atau perayaan Tahun saka ini dilangsungkan pada tilem kesanga.

Keesokan harinya saat Nyepi dilangsungkan pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan dharma santi ataupun tirta yatra untuk meningkatkan kesucian pribadi dan memperkuat keimanan kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber :sejarahharirayahindu.blogspot.com
(ACP)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF