BaliDigital.id

'Literasi Digital dari Bali untuk Negeri'

Denpasar, (NS7) – Arya Getas (bergelar Raden Wira Candra) adalah seorang patih dari Kerajaan Gelgel Bali yang memiliki sekelumit kisah cinta dalam memimpin penyerangannya ke Seleparang Lombok.

  • Karena tetampanannya,
    • akhirnya puteri raja dan sampai permaisuri keraton tergila-gila kepadanya.
  • Akibat melihat kecantikan istri Beliau,
    • sang raja akhirnya juga mengusir Beliau.
  • Namun berkat kerjasama yang baik dengan Kerajaan Karangasem,
    • akhirnya Beliau pun dapat membangun sebuah kerajaan di Lombok.

Arya Getas sendiri disebutkan merupakan adik dari Arya Gajah Para yang dalam beberapa babad disebutkan dengan banyak nama dan gelar seperti :

  • Sirarya Getas saat diutus oleh Gajah Madake Bali.
  • Bergelar Arya Sudarsana, Arya Banjar Getas dan Raden Wira Candra pada saat Beliau berada di Lombok.

Kisah ini bermula dari sebuah perintah Raja dari Kerajaan Gelgel Bali yang memerintahkannya untuk menyerang Kerajaan Seleparang di Lombok dalam Babad Gajah Para Bagian 1 diceritakan,

Setelah semua lengkap dengan perbekalan dan kendaraan, menjadi penuhlah desa-desa pesisir di sepanjang pantai, beliau bersama semua rakyatnya hilir mudik menaiki perahu.

Akhirnya berhasillah beliau berlabuh di tepi pantai Selaparang, turun dari perahu, berjalan beliau Arya Getas.

  • Rakyat Selaparang menjadi terdiam, oleh karena beliau ( Arya Getas ) berhasil memasang empat daya upaya yang licin, 
  • beliau langsung menerobos memasuki semua desa, orang-orang yang berada di Praya semua diam, 
  • semua memberi hormat kepada Arya Getas, 

Tersebutlah sebuah kisah Arya Banjar Getas (Babad Lombok dan Seleparan)ketika Beliau akan menghadap kepada raja,

  • Kedatangan Arya Banjar Getas beserta pasukannya telah menimbulkan keramaian luar biasa di kerajaan. 
  • Semua orang ingin melihatnya, tidak terkecuali permaisuri keraton. 

Dalam kesempatan itu, Arya Banjar Getas beserta pasukannya sebenarnya juga berniat melakukan acara sawur paksi (pelepasan burung dara) namun sebelum niat sawur paksi dan dilanjutkan menghadap raja tersampaikan, terjadi tragedi di istana.

  • Permaisuri yang mencoba melihat acara tersebut dengan menaiki dinding istana menggunakan tangga terjatuh dan pingsan. 
  • Kejadian ini mengakibatkan raja menjadi murka dan memerintahkan bawahannya untuk menangkap Arya Banjar Getas. 

Singkat cerita, setelah lama – kelamaan keadaan menjadi aman dan pulih kembali, Arya Getas diberikan penghormatan oleh sang raja dan bergelar Raden Wira Candra yang memiliki seorang istri bernama Lala Cindra dan Lala Junti.

Namun raja Pejanggik sangat terpesona melihat kecantikan isteri Raden Wira Candra (Arya Banjar Getas) dan membuat upaya agar bisa mendekati isteri Wira Chandra,

  • sang raja kemudian memerintahkan Raden Wira Chandra untuk pergi ke Bali,
  • menghadap kepada Raja di Kelungkung untuk meminta kebutuhan dapur,
  • karena Raja berniat hendak menyelenggarakan pesta.

Sepeninggal Arya Banjar Getas, Raja Pejanggik kemudian memanggil seluruh istri pembesar istana, termasuk Lala Junti istri Arya Banjar Getas untuk menenun di kerajaan.

Kegiatan tersebut berlangsung sampai sore, ketika isteri-isteri pembesar yang lain pulang, Lala Junti tidak diperkenankan untuk pulang.

  • Pada malam harinya, raja kemudian memperkosa Lala Junti. 
  • Ketika hal itu disampaikan istrinya lewat surat kepada Arya Banjar Getas, 
    • dia tidak serta-merta mempercayai isterinya, tetapi

Ketika berburu dengan raja sekembalinya dari Kelungkung, secara tidak sengaja dia melihat selendang isterinya digunakan di dalam baju raja,

  • Arya Banjar Getas kemudian marah 
  • dan melakukan pemberontakan.

Kisah pemberontakannya diceritakan sebagai berikut :

 Sekembalinya dari Bali dalam menunaikan titah Raja Pejanggik, Arya Banjar Getas tidak langsung pulang ke Tapon (tempat dia bersama isterinya tinggal. Dari Pejanggik ke Tapon jaraknya sekitar 3 KM-pen), tetapi singgah terlebih dahulu untuk menemui isterinya Lala Cindra yang tinggal bersama adik mertuanya di Bayan. 

  • Lala Cindra sendiri ke Bayan ketika Arya Banjar Getas diserbu untuk kesekian kalinya oleh pasukanSeleparang ketika masih di Perigi.  
  • Di saat kekuatan pasukannya waktu itu kian melemah, pasukan wanita Arya Banjar Getas kemudian melarikan Lala Cindra menuju Bayan.
  • Arya Banjar Getas sendiri melarikan diri ke Memelak (Praya sekarang-pen).
  • Sejak saat itu, Arya Banjar Getas tidak pernah bertemu lagi dengan Lala Cindra hingga ketika dia kembali dari Bali, dia memutuskan tidak langsung kembali ke Pejanggik, tetapi singgah terlebih dahulu selama dua bulan mengunjungi Lala Cindra.

Sekembalinya dari Bayan, Arya Banjar Getas kemudian menyampaikan keberadaan istri tuanya kepada Lala Junti (isteri mudanya), sekaligus meminta ijin kepada Lala Junti untuk kembali ke Bayan dan tinggal disana selama 1 bulan lagi.

 Hal itu kemudian membuat Lala Junti menjadi sangat marah dan mengusir Arya Banjar Getas. Arya Banjar Getas kemudian pergi meninggalkan Tapon dengan tujuan ke Bayan. 

 Sesampainya di Ampenan, tidak satupun perahu yang akan ke Bayan yang dia temukan. 

 Dengan terpaksa dia akhirnya menumpang ke Bali dengan niat, di Bali dia akan mencari perahu yang akan ke Bayan untuk menumpang. 

Sesampai di Bali, dia bertemu dengan salah seorang temannya I Gusti Bagus Alit yang kemudian mengajaknya menghadap ke Raja Karangasem.

  • Raja Karangasem kemudian mengingatkannya tentang peristiwa pengusirannya dari Seleparang, 
  • dan menyarankannya untuk membalas kejadian tersebut dengan terlebih dahulu menyerang Pejanggik.

Raja Karangasem memandang kebusukan Raja yang hendak memperkosa isteri Arya Banjar Getas sebagai pemicu munculnya persekongkolan Arya Banjar Getas dengan Karangasem menyerang Pejanggik yang juga didasari faktor internal Arya Banjar Getas yang sedang galau menghadapi konflik keluarganya dengan Lala Junti.

Keberhasilan kerja sama Arya Banjar Getas dengan Bali (Karangasem) pertama kali ketika menyerang kerajaan Pejanggik hingga runtuh (sekitar 1722).

  • Setelah keberhasilan tersebut, Arya Banjar Getas kemudian membangun kerajaan di Memelak (kerajaan Arya Banjar Getas). 
  • dan tidak lama setelah kemenangan atas Pejanggik, Arya Banjar Getas bersama dengan Kerajaan Karangasem kemudian kembali menyerang Kerajaan Seleparang hingga runtuh pada tahun 1725.

Kerajaan Memelak yang di bangun Arya Banjar Getas terletak di Praya saat ini. Arya Banjar Getas sendiri menyandang gelar Arya Banjar Getas I.

  • Raja Arya Banjar Getas I selanjutnya menurunkan trah raja-raja kerajaan Arya Banjar Getas 
  • Mulai dari Raja Arya Banjar Getas II hingga Arya Banjar Getas VII di Lombok.

Dengan demikian, kehadiran Arya Banjar Getas dalam catatan sejarah Lombok disebutkan juga menjadi langkah awal adanya adaptasi kebudayaan Bali dan suku sasak di Lombok.

Sumber : sejarahbabadbali.blogspot.com
(GC)

Print Friendly, PDF & Email
   Send article as PDF